Apakah Anda merasa bahwa Anda merupakan insan terbaik dan terpilih
karena kini Anda memiliki kehidupan dan pendidikan yang begitu baik?.
Apakah Anda merasa bahwa orang-orang yang begitu banyak menghabiskan
waktunya di jalan merupakan orang-orang yang tidak mempunyai visi
kehidupan sehingga menjadikan jalan sebagai sahabatnya?. Dan apakah Anda
juga termasuk ke dalam orang-orang yang mengkritik betul terhadap
pemerintahan negara kita yang begitu semerawut hingga mungkin beberapa
diantara Anda rela ‘meluangkan’ waktunya untuk turun ke jalan meneriakan
kegagalan kinerja pemerintah yang begitu buruk. Tapi seberapa banyak
dari Anda yang mengkritisi sistem pendidikan yang telah tertanam begitu
lama pun dengan hasil sistem yang telah diterapkan kini Anda menempati
posisi terbaik karena menyandang gelar ‘mahasiswa’ yang merupakan
tingkatan tertinggi dalam kelas akademik?.
Sadarkah kita bahwa
sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia sebetulnya hanya
menyiapkan siswa untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi, dengan kata
lain pendidikan yang diterapkan ‘hanya’ berlaku untuk anak-anak yang
mampu secara kognitif (bahasa dan logis matematis). Hal ini dapat
terlihat dari mata pelajaran-mata pelajaran yang diterapkan yang
mengedapankan sisi akademik (kognitif) yang identik dengan kemampuan
otak kiri. Tetapi tahukah Anda bahwa ternyata sebanyak 85% penduduk di
dunia ini memiliki IQ <120, hal ini berarti menunjukan bahwa hanya
sekitar 15% saja orang yang mampu secara akademik.
Sudah puluhan
tahun energi bangsa kita terbuang sia-sia untuk menciptakan manusia
Indonesia yang menguasai IPTEK dengan segala beban kurikulum yang luar
biasa beratnya. Padahal, jika potensi (IQ) siswa hanya 90 atau 100,
diberi pelajaran tambahan berapapun, tidak akan meningkatkan hingga 120.
Seandainya energi kita lebih difokuskan pada bidang keterampilan untuk
menyiapkan 85% penduduk agar mereka siap dan terampil untuk bekerja
secara profesional, mencintai pekerjaannya dan berkomitmen pada kualitas
produksi yang tinggi, mungkin kondisi Indonesia tidak separah sekarang
(Megawangi 2008).
Lihatlah sejenak anak-anak yang lebih memilih
nongkrong di jalan bahkan dengan bangganya menghisap rokok dan mereka
benar-benar tidak memiliki rasa malu dengan atribut lengkap yang masih
mereka kenakan (seragam) yang bahkan mencantumkan namanya dan identitas
sekolah yang sangat lengkap. Lantas pertanyaanpun muncul, apa sebenarnya
titik masalah yang mereka hadapi? Apakah permasalahan ekonomi?
Keluarga? Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung? Atau kah
lingkungan akademik yang seakan-akan menganggap mereka kaum
‘terpinggirkan’ karena tidak sekompeten siswa yang lainnya sehingga
jalanlah pilihan mereka dibandingkan sekolah yang di create untuk
menimba ilmu sebanyak mungkin sehingga menghasilkan insan-insan
akademisi unggul. Lantas bukankah Tuhan membekali manusia dengan
struktur otak yang sama, dan ketika manusia dilahirkan benar-benar pure
semuanya sama tidak memiliki pengetahuan sama sekali karena pengetahuan
tumbuh tidak terlepas dari di mana dan pada lingkungan seperti apa ia
dibesarkan.
Erik Erikson (1902-1994) berpendapat bahwa
perkembangan emosi positif sangat penting dalam perkembangan jiwa anak,
dan ini sangat bergantung pada peran orangtua dan guru. Memasuki usia 18
bulan sampai 3,5 tahun seorang anak memasuki tahap autonomy vs
shame/doubt (kemandirian vs ragu/malu) dalam tahapan ini anak akan
mempunyai rasa malu dan ragu tentang kemampuan dirinya. Mereka hendaknya
dibiarkan bebas bereksplorasi dan bereksperimen walau tetap dalam
pengawasan orangtua. Anak yang sering dilarang, dimarahi, serta dihukum
pada tahapan ini akan menjadi pribadi yang apatis dan rendah diri. Ia
juga akan menjadi ragu dalam proses pengembangan identitas
kepribadiannya yang unik karena takut dianggap berbeda. Usia 3,5-6 tahun
anak memasuki tahap initiative vs guilt (inisiatif vs merasa bersalah)
seorang anak yang baik pada tahapan sebelumnya berpotensi berkembang ke
arah yang positif (kreatif, antusias, aktif bereksperimen, imajinatif,
berani mencoba, berani mengambil resiko, dan senang bergaul dengan
kawannya). Kesemuanya ini bergantung kepada lingkungan belajar anak yang
kondusif, jika pada masa ini anak sering dikritik, maka emosi yang
timbul adalah negatif (selalu timbul perasaaan bersalah atas apa yang
telah ia kerjakan) ketika anak diberikan tanggung jawab dan semakin ia
merasa bertanggung jawab, maka anak semakin mempunyai inisiatif. Usia
6-10 tahun anak memasuki tahap industry vs inferiority (berkarya/etos
kerja vs minder) masa ini merupakan masa kyang sangat kritis bagi anak,
di mana anak mengembangkan kepercayaan dirinya bahwa mereka mampu untuk
berkarya dan bereksplorasi. Seharusnya pada masa ini anak paling antusia
belajar dan berimajinasi. Pada masa ini yang harus ditimbulkan pada
perasaan anak seperti “Aku bisa”, “Aku pintar”, “Aku anak baik”,dll.
Karena bila perasaan ini tidak ditimbulkan maka akan timbullah perasaan
rendah diri atau minder seperti “Aku bodoh”,”Aku tidak bisa
berkarya”,dll. Apabila perasaan negatif ini terus timbul maka akan
terbawa hingga ia dewasa.
Merujuk pada tahapan-tahapan
perkembangan tersebut yang ternyata masuk ke dalam usia pra sekolah dan
sekolah dapat ditarik kesimpulan bahwa usia-usia tersebut merupakan masa
yang sangat penting dimana antusias dan kepercayaan diri pada diri anak
di bangun. Dapat dibayangkan apabila ternyata anak justru tidak
mendapatkan kondisi positif untuk belajar dan mengembangkan dirinya.
Mari sejenak kita mengingat bagaimana sistem ranking diterapkan. Ranking
di kelas berarti secara gamblang memberikan informasi atas pencapaian
kognitif siswa di kelas. Hal ini bukanlah menjadi suatu masalah bagi
anak yang memiliki kemampuan kognitif yang baik tetapi bagaimana dengan
anak yang justru kecerdasannya bukan dikognitif, bagaimana perasaan anak
ketika misalnya ia mendapatkan ranking terakhir di kelas, bukankah
secara tidak langsung hal ini menimbulkan rasa minder, bodoh, bahkan
mungkin merasa menjadi siswa yang tidak berguna. Belum lagi ketika
ternyata keluarganya bukannya malah mensupport tetapi justru
memojokan anak sehingga melekatlah citra ‘produk gagal’. Lantas jika ini
terus-terusan berlanjut maka anak akan mencari ‘pelarian’, dimana anak
akan mencari lingkungan yang benar-benar dapat menerimanya dan tidak
menganggap dia sebagai ‘produk gagal’ yang tidak berguna. Maka tidaklah
heran kalau ternyata kini angka kenakalan remaja seperti free sex, geng motor, tawuran, dll dikalangan usia sekolah tinggi.
Padahal menurut Howard Gardner orang yang pertama mencetuskan istilah multiple intelligences (kecerdasan
majemuk). Konsep ini memperkenalkan bahwa manusia belajar dan berhasil
melalui berbagai kemampuan kecerdasan yang tidak terukur oleh IQ.
Menurut Gardner, definisi cerdas adalah “Kemampuan memecahkan masalah
atau kemampuan berkarya menghasilkan sesuatu yang berharga untuk
lingkungan sosial, budaya, atau lingkungannya”. Gardner membagi
kecerdasan kedalam 9 aspek yaitu: picture smart (spasial) kemampuan
tinggi dalam memvisualisasikan fenomena dalam bentuk gambar, people
smart (kecerdasan interpesonal) kemampuan sosialisasi yang baik, ciri
kecerdasan ini ialah mudah menyelesaikan konflik dengan orang lain, body
smart (kecerdasan kinestik) cepat mempelajari dan menguasai
kegiatan-kegiatan yang melibatkan fisik, baik motorik kasar maupun
halus, word smart (kecerdasan bahasa) mampu mengekspresikan pikirannya
secara verbal maupun tulisan, self smart (kecerdasan intrapersonal)
mudah mengenali perasaan diri (puisi,drama,meditasi,menulis jurnal, dan
bercerita), sound mart (kecerdasan musik), nature smart (kecerdasan
mempelajari alam) mempelajari fenomena alam (biologi), number smart
(kecerdasan logika matematika), spiritual smart (kecerdasan spiritual)
menyadari adanya saling keterkaitan antara dirinya dengan manusia lain,
serta lingkungannya, kemampuan berpikir dalam tentang makna hidup.
Anak-anak yang mempunyai masalah dalam perkembangan emosi sosialnya
akan mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan tidak
dapat mengontrol emosinya.Aspek kecerdasan emosi anak dapat membantu
anak dalam mengembangkan potensi-potensi lainnya secara lebih optimal.
Bahkan anak yang tadinya kelihatan agak terbelakang, dengan diberikan
perhatian dan lingkungan belajar yang kondusif untuk menumbuhkan
kepercayaan dirinya, dapat membuat anak tersebut mampu mengikuti
pelajaran sekolah dengan baik (Megawangi 2004).
Pertanyaanpun
muncul, bukankah dengan diterapkannya sistem ranking anak akan terpacu
untuk belajar lebih baik lagi dengan harapan anak dapat meraih prestasi
sebaik mungkin. Ya itu memang betul, dengan diterapkannya sistem ranking
maka akan menimbulkan persaingan sehingga setiap individu akan
berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil yang terbaik tetapi ingat ini
hasil untuk apa dan untuk siapa, kalau toh ini hanya berpusat pada
pencapaian dan keberhasilan individu maka jangan salahkan jika begitu
banyak masyarakat kita yang memiliki sifat individualis yang tinggi
(bukankah ketika Anda meraih tingkatan tertinggi Anda telah mengalahkan
orang lain, dan untuk mempetahankan posisi Anda, Anda akan melakukan
segala upaya untuk tetap mempertahankannya dan ketika posisi Anda
beralih kepada orang lain Anda tidak senang dengan keberhasilan yang
sekan-akan telah menggantikan’posisi’ Anda itu), tidak senang melihat
keberhasilan orang lain, hingga yang paling parah adalah melakukan
berbagai cara untuk mencapai hasil yang Anda inginkan dan hal ini
terbukti dengan maraknya aksi mencontek dikalangan pelajar dan mahasiswa
karena orientasi nilai dan pencapaian target akademik yang tinggi,
sehingga belajar seakan-akan untuk kebutuhan nilai dan formalitas, bukan
menelaah lebih dalam apa tujuan dari pelajaran yang diberikan dan yang
terpenting adalah bagaimana relevansi antara apa yang didapatkan di
sekolah/kampus dengan kehidupan nyata yang berada di sekitarnya.
Lantas pertanyaannya sekarang sistem pendidikan apa yang semestinya
diterapkan, kalau toh pada kenyataannya sistem pendidikan seperti ini
memiliki efek yang buruk khususnya pada kecerdasan emosi siswa. Dewey
berpendapat bahwa tujuan pendidikan harus dapat menyiapkan manusia untuk
dapat mengarungi kehidupan sesuai dengan jamannya. Beberapa pokok
pikiran yang dapat dijadikan dasar untuk tujuan pendidikan adalah:
menyiapkan individu sebagai lifelong learners (pembelajar sejati) dimana
lifelong learners ini akan menyadari betul bahwa dirinya
merupakan bagian dari suatu sistem, dan dengan menyadari itu maka ia
akan memberikan kontribusi terbaik untuk sistemnya, menyiapkan individu
yang mempunyai komitmen terhadap perdamaian dan perwujudan dunia yang
lebih baik, dan menyiapkan individu yang mempunyai daya saing tinggi
dalam dunia kerja (jelaslah disini keberhasilan team work yang lebih diutamakan).
Intinya adalah bagaimana suatu sistem pendidikan yang diterapkan bukan
hanya mengangkat kecerdasan kognitif saja tetapi bagaimana sistem
pendidikan tersebut dapat menjadikan manusia yang dapat menyeimbangkan body mind and soul .
Potensi manusia yang harus dikembangkan melalui pendidikan adalah:
aspek fisik,emosi, sosial, kreativitas, spiritual, dan akademik. Menurut
Jeremy Henzell-Thomas (2004) “Membangun secara utuh dan seimbang pada
setiap murid dalam seluruh aspek pembelajaran spiritual, moral,
imajinasi, intelektual, budaya, estetika, emosi, dan fisik. Mengarahkan
seluruh aspek tersebut kearah pencapaian sebuah kesadaran tentang
hubungannya dengan Tuhan, yang merupakan tujuan akhir dari semua
kehidupan manusia di dunia”.
Untuk itulah pendidikan holistik
hadir. Pendidikan holistik mulai berkembang sekitar tahun 1960-1970.
Sebagai akibat dari krisis ekologi, dampak nuklir, polusi kimia dan
radiasi, kehancuran keluarga, hilangnya masyarakat tradisional,
hancurnya nilai-nilai tradisional beserta institusinya. Prinsip-prinsip
pendidikan holistik hadir karena pada kenyataannya banyak siswa yang
kesulitan dalam memahami arti (meaning), relevansi dan nilai (value)
dari sekolah dan kehidupan, siswa tidak menemukan alasan tepat untuk
menuntut ilmu sehingga ilmu yang dipelajari hanya diperuntukan untuk
ujian, ujian bagus berarti masuk perguruan tinggi, setelah lulus kuliah
terus kerja (apakah rangkaian tersebut merupakan alasan yang tepat untuk
mempelajari suatu ilmu?).
Tujuan pendidikan holistik yaitu
bagaimana agar siswa siap menghadapi tantangan hidup termasuk akademik.
Pendidikan holistik dengan prinsip dan konsep dasarnya yaitu connected, wholeness, dan being. Makna holistik dalam pendidikan mencangkup 3 aspek, yitu: holistic education, holistic curriculum, dan holistic learning.
Dimana dalam pendidikan holistik mata pelajaran diberikan memiliki
keterkaitan dengan yang lainnya serta relevan dalam kehidupan nyata.
Dengan mata pelajaran yang saling terkait siswa dilatih agar tidak
berpikir parsial, terkotak-kotak sehingga dapat memandang segala sesuatu
secara utuh dan menyeluruh.
Fitjrof Capra berpendapat bahwa
pengetahuan manusia tentang sains, masyarakat, dan kebudayaan telah
begitu terkotak-kotak, sehingga manusia tidak mampu melihat segala
sesuatu secara keseluruhan dari setiap fenomena sehingga solusi untuk
menyelesaikan permasalahanpun menggunakan pendekatan yang parsial,
sehingga bukannnya menyelesaikan masalah tetapi justru memperumit
masalah. Hal ini serupa dengan pendapat David Orr yang mengatakan bahwa
isu-isu terbesar saat ini pasti berakar dari kegagalan kita untuk
melihat segala sesuatu secara menyeluruh.
Setiap manusia yang
diciptakan Tuhan telah Tuhan bekali dengan mesin kecerdasan yang
berbeda-beda. Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk meraih
kesuksesan dalam hidup. Tidak ada satupun manusia yang diciptakan Tuhan
tanpa ada misi, Tuhan selalu memiliki maksud dan tujuan dalam setiap
penciptanNya. Sekarang tugas kita adalah bagaimana membangun lingkungan
kondusif untuk mencetak juara-juara masa depan yang bukan hanya suskses
terhadap kehidupan pribadinya tetapi juga dapat memberikan kontribusi
penuh terhadap sistemnya. Untuk itulah perlu adanya keseimbangan antara body mind and soul .
Melalui pendidikan holistik maka akan lahirlah insan madani, insan
kamil, insan paripurna yang menyadari betul bahwa tujuan akhir dari
kehidupan ini adalah untuk Tuhan. Tidak ada manusia bodoh ataupun
manusia yang tidak berguna, hanya tinggalah tugas kita sekarang adalah
menemukan kuncinya, dan fokuslah pada kelebihannya bukan pada
kelemahannya. Karena ternyata dalam penelitiannya George Boggs
memaparkan bahwa kecerdasan kognitif hanya menyumbang sekitar 20% dari
kesuksesan hidup, sementara sebanyak 80% ditentukan oleh kecerdasan
emosi.
Daftar Pustaka
Megawangi, Ratna., R. Dona, Y. Florence, W. Farrah Dina. (2004). Pengasuhan
dan Pendidikan Anak yang Patut dan Menyenangkan Untuk Anak Usia Dini (0
sampai 8 tahun): Penerapan teori DAP, Pendidikan yang Patut Sesuai
Dengan Tahapan Perkembangan Anak. Depok : Indonesia Heritage Foundation.
Megawangi, Ratna. (2004). Pendidikan karakter. Depok : Indonesia Heritage Foundation.
Megawangi, Ratna., M. Latifah.,W. Farrah Dina.(2008). Pendidikan Holistik: Aplikasi Kurikulum Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Untuk Menciptakan Lifelong Learners. Depok : Indonesia Heritage Foundation
Sumber : http://www.kompasiana.com/saniatuaini/ketika-sistem-pendidikan-kita-bermasalah_551029998133117436bc6207
Minggu, 28 Juni 2015
artikel sangat membantu...:P
BalasHapus